Notification

×

Iklan

Iklan

Pak JK Singgung Capres Pemarah: Bisa Ditonjok Kepala Negara Lain

Kamis, 11 Januari 2024 | Kali Dibaca Last Updated 2024-01-11T12:12:15Z
Advertisement
Pages/Halaman:
Marketplace
Maintenance
Politikus senior Partai Golkar yang juga Wapres RI 2004-2009 dan 2014-2019 Jusuf Kalla meningatkan publik tidak salah memilih capres Pilpres 2024.
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla saat bertemu Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar di Jakarta, Sabtu (6/5). Foto: Ricardo/JPNN.com
SAFAHAD Technology - Politikus senior Partai Golkar yang juga Wapres RI 2004-2009 dan 2014-2019 Jusuf Kalla meningatkan publik tidak salah memilih capres Pilpres 2024. Tokoh yang kondang dengan inisial JK itu berpendapat figur pemarah tidak cocok jadi presiden.

JK menyampaikan pendapatnya tersebut saat mendampingi cawapres bernomor urut 1 di Pilpres 2024 Muhaimin Iskandar berdialog dengan para pengusaha yang tergabung dalam Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (ISMI) Jawa Timur di Hotel Namira, Surabaya, Rabu (10/1/2024).

"Kalau kawan kita yang satu marah terus, bagaimana kira-kira negara dipimpin oleh orang yang suka marah? Bagaimana kira-kira kalau dia berdebat dengan kepala negara lain? Bisa ditonjok kepala negara lain," kata JK di hadapan puluhan pengusaha yang hadir.
JK menjelaskan seorang pemimpin ibarat sopir. Jika pemimpin tidak bisa mengendalikan diri, akibatnya bisa celaka. "Kalau pilih sopir, jelas yang tahu arah, tidak suka marah-marah. Kalau marah-marah bisa-bisa menabrak nanti," tambahnya.

Lebih lanjut JK menyarankan agar pemilih bisa memilih calon pemimpin yang memiliki sifat-sifat seperti Nabi Muhammad. Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu menegaskan seluruh pasangan capres-cawapres beragama Islam.

“Kami di sini tidak mengeklaim AMIN (Anies Baswedan - Muhaimin Iskandar, red) yang paling islami. Semuanya (paslon) Islam.
Intinya memilih yang terbaik, harus ada pengetahuan, harus amanah, tablig, paling baik siapa, paling amanah siapa. Itu saja pegangannya, karena kita, kan, harus mengikuti ilmu Rasulullah," ucapnya.

Selanjutnya, Seusai acara itu, JK kembali menegaskan

Seusai acara itu, JK kembali menegaskan bahwa seorang pemimpin harus memiliki ketenangan. "Pemimpin harus tenang, memiliki gagasan, jangan emosional, karena persoalan bangsa ini banyak, kalau tidak tenang pemimpin kita, tentu tidak baik. Tentu pemimpin jangan emosional," katanya.

Sumber: JPNN.com

CLOSE